Kerajaan Demak

7 min read

Kerajaan Demak

Kerajaan Demak merupakan kerajaan yang berdiri atas runtuhnya kerajaan Majapahit. Ada cerita panjang yang membuatnya demikian. Demak juga menjadi kerajaan dengan corak Islam pertama di Pulau Jawa. Berdiri sebagai kerajaan dalam waktu yang singkat, dari kisahnya banyak hal yang bisa dipelajari dan dipetik pelajarannya.

Peninggalan yang terkenal adalah Masjid Agung Demak, dahulunya dibangun bersama para walisanga sebagai bukti keagungan kerajaan Demak pada saat itu. Demak memasuki masa kejayaan dan memasuki masa runtuhnya dalam waktu yang cukup dekat. Simak lebih lengkap tentang kerajaan yang berjenis kesultanan berikut.

Peninggalan Kerajaan Demak

Peninggalan kerajaan Demak yang paling populer adalah Masjid Agung Demak. Salah satu masjid tertua di Pulau Jawa yang sampai sekarang ini masih ada. Selain Masjid Agung Demak, peninggalan lainnya adalah pintu bledeg, soko tatal dan soko guru, bledug dan kentongan, situs kolam wudlu, maksurah, dampar kencana, dan piring campa.

Diketahui bangunan Masjid Agung Demak adalah masjid yang dibangun oleh walisongo pada abad ke-14. Telah beberapa kali direnovasi, tidak membuat arsitektur asli dari masjid ini berubah. Untuk diketahui, masjid ini berada di Desa Kauman, Demak, Jawa Tengah.

Pintu bledek adalah pintu utama di Masjid Agung Demak. Dibuat oleh Ki Ageng Selo pada abad ke-14, seiring pembangunan Masjid Agung Demak. Pintu ini sudah tak lagi menempel di masjid. Karena usianya yang sudah sangat tua, pintu ini dipindahkan ke museum. Konon, Ki Ageng Selo membuat pintu ini dari petir sehingga dinamakan pintu bledek atau pintu petir.

Soko guru adalah empat penyangga yang ada di Masjid Agung Demak, pembuatannya terbuat dari tatal. Sama halnya dengan bedug dan kentongan, yang mana merupakan properti di dalam masjid tersebut. Dahulu dua benda ini digunakan untuk mengumandangkan azan ajakan sholat. Situs Kolam Wudhlu juga berada di masjid ini, tepatnya berada di halamannya.

Situs tersebut dahulu digunakan untuk berwudhu, namun tidak lagi karena situs ini kini menjadi peninggalan bersejarah. Wujud dari Maksurah adalah hiasan dinding yang ada ukiran kaligrafinya. Dampar kencana merupakan singgasana untuk para sultan yang memimpin Demak, dan Piring Campa adalah pirinh pemberian ratu dari Campa. Ada sebanyak 65 Piring Campa yang kemudian dijadikan hiasan di masjid.  

Sejarah Kerajaan Demak

Sejarah kerajaan Demak diawali dengan latar belakang yang membuat kerajaan bercorak Islam ini berdiri. Sebelumnya, di Jawa ada kerajaan yang bernama Majapahit. Memiliki wilayah kekuasaan yang luas, lokasi berdirinya berada adalah salah satunya.

Majapahit menjumpai masa keruntuhannya pada akhir abad ke-14. Raja yang sedang memimpin memiliki putra yang bernama Radn Patah, Raden Patah kemudian berinisiatif untuk mendirikan kerajaan bercorak Islam di Demak. Yang mana juga menjadi kerajana corak Islam tertua di Pulau Jawa.

Demak berdiri sebagai kesultanan mulai tahun 1500 Masehi sampai sekitar tahun 1586 Masehi. Runtuhnya kerajaan ini dikarenakan beberapa faktor. Demak pada saat itu runtuh di tangan kerajaan Pajang.

Selama berdiri sebagai kerajaan, Demak memberikan peninggalan yang beragam. Peninggalannya yang paling populer adalah Masjid Agung Demak dengan situs kolam wudhu yang ada di halamannya. Demak juga memberikan peninggalan berupa benda-benda dengan nilai estetika ke-Islam an yang sampai sekarang ini masih disimpan di masjid tersebut.

Baca juga : Kerajaan Tarumanegara – Peninggalan, Sejarah, Prasasti, Letak, Raja

Pendiri Kerajaan Demak

Diketahui pendiri kerajaan Demak adalah Raden Patah, ia mendirikan kerajaan bercorak Islam sekitar abad ke-15. Tadinya Demak merupakan salah satu wilayah kekuasaan milik kerajaan Majapahit. Saat iu raja yang sedang menjabat, Kertawijaya menikah dengan puri Campa. Dari pernikahan tersebut lahirlah Raden Patah.

Di sekitar abad ke-15, kerajaan Majaphit mulai memasuki masa keruntuhannya. Sebab di masa-masa tersebut terjadi perang saudara diantara Majapahit. Kemudian Raden Patah memutuskan untuk mendirikan kerajaan Demak.

Demak saat itu menjadi kerajaan bercorak Islam pertama di Pulau Jawa. Meskipun diketahui Raden Patah mendirikan Demak pada abad ke-15, ada tarikh Islam yang menceritakan bahwa kerajaan ini berdiri pada tahun 1481. Tarikh yang menjelaskan kapan berdirinya demak ini disebut sebagai candrasengkala dan sampai sekarang ini disimpan di dalam Masjid Agung Demak.

Bukan sepenuhnya inisiatif Raden Patah pada saat itu untuk mendirikan kerajaan. Ia juga didukung oleh para wali sehingga akhirnya benar-benar mendirikan kerajaan di Demak dan menjadi raja pertama di sana.

Raja-Raja Kerajaan Demak

Kerajaan Demak berdiri selama kurang dari 100 tahun, lebih tepatnya berdiri pada tahun 1481 dan berakhir pada tahun 1546. Karenanya, wajar jika Demak memiliki sedikit raja saja yang pernah memimpin.

Raja pertama yang memimpin Demak adalah pendirinya, yaitu Raden Patah. Raden Patah menjadi raja mulai dari tahun 1481 sampai tahun 1518 Masehi. Setelah Raden Patah meninggal, Demak dipimpin oleh putranya yang bernama Adipati Unus. Adipati Unus memimpin dari tahun 1518 sampai 1521 Masehi. Kemudian, Adipati Unus digantikan oleh adiknya yang bernama Sultan Trenggana.

Sultan Trenggana memimpin Demak sampai tahun 1546 Masehi. Untuk menjadi raja, sebelumnya Sultan Trenngana berebut dengan pangeran Sekar Sedo Lepen, yang mana merupakan adik dari Sultan Trenggana.

Kemudian setelah Sultan Trenggana meninggal, masih ada lagi perebutan kekuasaan. Perebutan kekuasaan yang terjadi adalah antara pangeran Prawoto selaku putra Sultan Trenggana dan Aria Penangsang selaku keturunan pangeran Sekar Sedo Lepen.

Pada akhirnya Aria Penangsang membunuh pangeran Prawoto dan putranya yang bernama pangeran Hadiri. Ratu Kalinyamat yang merupakan istri dari pangeran Prawoto kemudian meminta tolong pada Adiwijaya atau yang akarb disebut Jaka Tingkir. Kemudian Adiwijaya berhasil membunuh Aria Penangsang dan disitulah cerita berakhirnya kerajaan di Demak ini.

Dari singkat cerita ini, bisa dirangkum bahwa raja-raja kerajaan Demak jika diurutkan ada Raden Patah, Adipati Unus, Sultan Trenggana, pangeran Prawoto, dan Arya Penangsang yang sempat memimpin sebentar saja.

Silsilah Kerajaan Demak

Lebih tepatnya, Demak adalah kesultanan, karenanya dalam informasi silsilah kerajaan Demak kali ini akan disebutkan beberapa nama sultan yang telah menjabat sebagai raja. Diketahui hanya ada tiga raja saja yang pernah memimpin Demak. Diawali oleh Raden Patah yang menjadi pendiri sekaligus sultan yang pertama memimpin Demak.

Raden Patah atau yang memiliki nama asli Sultan Alam Akbar Al-Fatah memimpin Demak dari tahun 1500 sampai 1518 Masehi. Setelahnya, Demak dipimpin oleh putra Raden Patah yang bernama Adipati Unus. Adipati Unus terkenal dengan nama Pangeran Sabrang Lor, sebab dulunya ia dikenal sebagai seseorang yang telah menyebrangi lautan utara.

Adipati Unus memimpin sampai tahun 1521 Masehi saja alias selama 3 tahun. Pada saat itu Adipati Unus melakukan penyerangan terhadap Portugis yang sedang menyerang Malaka. Sampai akhirnya meninggal dunia pada peperangan tersebut. Kemudian Demak dipimpin oleh Sultan Trenggana, adik dari Adipati Unus.

Bersama Sultan Trenggana, Demak berhasil memasuki masa kejayaannya. Sebab, karena ia, Demak berhasil memiliki wilayah kekuasaan yang lebih luas hingga ke Sunda Kelapa. Di sana lah ia dan pasukanya melawan bangsa Portugis. Karena berhasil, kemudian Sunda Kelapa diubah namanya menjadi Jayakarta. Sultan Trenggana memimpin Demak dari tahun 1521 sampai 1546 Masehi.

Namun, setelah ia memimpin justru Demak memasuki masa kehancurannya hingga pada akhirnya benar-benar runtuh. Ada banyak faktor yang menyebabkan perpecahan Demak, salah satunya adalah adanya perang dingin saudara. Perebutan kekuasaan antara adik dan kakak, lebih tepatnya antara Sultan Trenggana dengan Pangeran Sekar Sedo Lepen. Keturunan dari keduanya pun juga masih saja mengadakan perang dingin, tidak memiliki hubungan yang harmonis.

Penyebab Runtuhnya Kerajaan Demak

Penyebab runtuhnya kerajaan Demak dibagi menjadi empat faktor, diantaranya adalah karena pusat pemerintahan yang dipindah ke Pajang, pemberontakan karena sistem pemerintahan, wilayah kekuasaan, dan konflik kekuasaan.

Dari penjelasan mengenai raja-raja yang memimpin Demak telah sedikit dijelaskan alasan mengapa kerajaan ini bisa runtuh. Kali ini akan disimak satu per satu faktor yang menyebabkan runtuhnya.

Faktor yang pertama adalah karena perpindahan pusat pemerintahan ke Pajang. Hal ini disebabkan pada akhir berdirinya Demak, Arya Penangsang dibunuh oleh Jaka Tingkir yang merupakan adipati yang berasal dari Pajang. Setelah Jaka tingkir memenangkan perkelahian tersebut, pusat pemerintahan kerajaan ini tidak lagi berada di Demak. Melainkan dipindahkan ke Pajang.

Faktor yang kedua dikarenakan sistem pemerintahan. Perlu diketahui bahwa Demak adalah kerajaan yang berdiri di wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit. Masyarakat sekitar lebih senang hidup dengan sistem pemerintahan dari Majapahit, sehingga hal ini menjadi salah satu faktor berakhirnya Demak.

Sebagian wilayah Demak adalah di wilayah maritim, yang mana karena hal ini membuat perpecahan antara wilayah-wilayah pedalaman yang ada di sana. Hal ini juga menjadi salah satu faktor runtuhnya Demak.

Kemudian faktor yang terakhir adalah karena konflik kekuasaan. Setelah Adipati Unus meningal, sempat ada konflik kekuasaan antara saudara. Konflik antara Sultan Trenggana dengan Sekar Sedo Lepen yang merupakan saudara kakak-adik. Konflik tersebut kemudian dimenangkan oleh Sultan Trenggana dan menjadi raja selanjutnya setelah Aipati Unus. Setelahnya pun masih ada konflik, yaitu konflik antara keturunan Sultan Trenggana dengan keturunan Sekar Sedo Lepen.

Masa Kejayaan Kerajaan Demak

Masa kejayaan kerajaan Demak adalah saat kerajaan kesultanan ini dipimpin oleh Sultan Trenggana. Demak memang menjadi kerajaan corak Islam pertama di Pulau Jawa, namun Demak juga menjadi kesultanan yang terkuat pada saat itu. Apa yang membuat Demak memasuki masa kejayaan saat dipimpin oleh Sultan Trenggana adalah berhasilnya mereka mengusir Portugis di Malaka.

Pada saat itu memang bangsa Portugis datang ke Nusantara dan melakukan penyerangan di daerah Sunda Kelapa atau yang sekarang disebut sebagai Jakarta dan wilayah lainnya. Daerah jajahan Portugis saat itu antara lain Blambangan, Tuban, Malang, Madiun, Pasuruan, dan Surabaya.

Ayah Sultan Trenggana, Adipati Unus sebelumnya tidak berhasil mengalahkan Portugis. Namun, Sultan Trenggana justru berhasil melakukannya. Karena kemenangannya melawan Portugis, Sunda Kelapa diubah namanya menjadi Jayakarta.

Selama masa kepemimpinannya, ia melakukan perjodohan politik. Lebih tepatnya, dengan menikahkan putrinya dengan Pangeran Hadiri yang kemudian menjadi raja kerajaan lain, menikahkan Joko Tingkir dengan adiknya, serta Pangeran Fatahillah dengan adiknya yang lain.

Tidak hanya itu saja, pada masa kepemipinannya mulai dibangun infrastruktur yang mana menjadi peninggalan kerajaan. Sayangnya, kematian dari Sultan Trenggana sebagai raja yang membawa kejayaan Demak justru membuat Demak mengalami kemunduran. Tidak lama setelah Sultan Trenggana meninggal dunia, Demak mulai runtuh.

Kehidupan Politik dan Sosial Kerajaan Demak

Kehidupan politik dan sosial kerajaan Demak tidak jauh-jauh dari peraturan dalam agama Islam. Sistem pemerintahan yang digunakan menggunakan ajaran Islam. Meski begitu, peraturan-peraturan, norma-norma, dan tradisi dari nenek moyang tetap tidak ditinggalkan.

Untuk kehidupan politik, diawali dengan berdirinya kerajaan ini sendiri. Telah dijelaskan bahwa kerajaan Demak berdiri atas runtuhnya Majapahit. Demak didirikan di salah satu wilayah kekuasaan milik Majapahit. Raden Patah selaku putra dari raja Majapahit yang sedang memimpin, Prabu Kertabumi, memutuskan untuk mendirikan kerajaan.

Oleh para walisanga, Raden Patah kemudian dijadikan raja. Selama berkehdiupan kesultanan, para walisanga banyak membantu Raden Patah. Mulai dari membantu membangun Masjid Agung Demak hingga menjadi penasihat atas ajaran agama Islam yang dianut dalam sistem pemerintahannya.

Kehidupan politik masih berlanjut hingga pemerintahan Sultan Trenggana. Sebelum meninggal dunia, ia melakukan perjodohan politik. Perjodohan politik yang ia lakukan adalah dengan menikahkan adik-adik perempuannya dengan petinggi sekitar. Seperti misalnya Pangeran Fatahillah, Jaka Tingkir, hingga Pangeran Hadiri.

Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Demak

Latar belakang berdirinya kerajaan Demak adalah karena mulai runtuhnya kerajaan Majapahit. Saat itu sekitar tahun 1498 Masehi memang Majapahit sebagai kerajaan mulai runtuh. Salah satu wilayah kekuasaan yang dimiliki Majapahit adalah Demak.

Raja yang memimpin Majapahit saat itu adalah Prabu Kertanumi atau yang disebut sebagai Brawijaya V. Prabu Kertabumi memiliki putra yang bernama Raden Patah. Raden Patah berinisiatif untuk mendirikan kerajaan supaya salah satu wilayah kekuasaan kerajaan ayahnya bisa terselamatkan.

Tahun 1500 Masehi adalah tahun di mana kerajaan Demak benar-benar berdiri. Kemudian para walisanga sepakat untuk menjadikan pendiri Demak sebagai raja.

Sistem Pemerintahan Kerajaan Demak

Sistem pemerintahan kerajaan Demak dijalankan dengan hukum Islam yang juga bersumber dari ajaran agama Islam. Dengan bantuan dari para walisanga, Raden Patah melengkapi wawasan hukum Islamnya untuk memerintah di Demak.

Awalnya memang ada konflik karena perbedaan sistem pemerintahan yang diterima oleh masyarakatnya. Dari yang tadinya menggunakan sistem pemerntahan kerajaan bercorak Hindu-Budha menjadi sistem pemerintahan dengan hukum Islam. Namun lambat laun, rakyat Demak mulai beradaptasi.

Meskipun menggunakan hukum Islam dalam pemerintahannya. Raden Patah tidak meninggalkan norma-norma dan tradisi yang sudah ada. Karenanya, terjadilah beberapa asimilasi budaya antara ajaran dalam Islam dengan ajaran yang sebelumnya dari kerajaan Majapahit.

Makalah Kerajaan Demak

Makalah kerajaan Demak akan membuat seseorang bisa mempelajari lebih banyak hal tentang Demak. Demak berdiri sebagai salah satu kerajaan corak Islam tertua di Indonesia, malahan menjadi kerajaan atau kesultanan bercorak Islam pertama di Pulau Jawa.

Demak berdiri sebagai kerajaan tidak diawali dengan perebutan kekuasaan, apalagi peperangan. Berdirinya kerajaan ini dengan kedamaian, yaitu putra dari raja Majapahit yang sedang menjabat berniat untuk mendirikan kerajaan supaya ada wilayah kekuasaan Majapahit yang terselamatkan oleh orang sendiri.

Demak memang menjadi kerajaan yang berdiri dalam waktu singkat, namun apa yang terjadi di dalamnya bisa dipetik pelajarannya. Mulai dari adanya konflik batin antar saudara yang merebutkan kekuasaan, perjodohan politik, dan runtuh karena perang saudara yang masih saja terjadi. Itulah hal penting tentang kerajaan ini yang kemudian menjadi salah satu nama wilayah setelah Indonesia merdeka. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *