Kerajaan Kutai

7 min read

Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai Kartanegara dan Kutai Martadipura adalah dua jenis kerajaan yang berbeda. keduanya saling berkesinambungan. Sebab satu dengan lainnya ada sebagai urutan kerajaan. Kerajaan yang sama, sama letaknya dan sama pusatnya, kemudian berubah menjadi kerajaan dengan nama lain. Adapun yang dimaksud adalah Kutai Martadipura yang kemudian berubah menjadi Kutai Kartanegara.

Diketahui ada pergeseran pusat kerajaan saat kerajaan ini berubah. Namun jika diurutkan berdasarkan kisah sejarah, dahulunya ada Kutai Martadipura yang berdiri sebagai kerajaan bercorak Hindu kemudian mengalami perubahan sebagai Kutai Kartanegara yang bercorak Islam.

Akan dibahas lebih lanjut tentang kerajaan Kutai, tentunya juga akan dijelaskan bagaimana sejarahnya bisa ada perubahan corak kerajaan yang juga membuat namanya berubah. Untuk pusat kerajaan pun juga bergeser sekian kilometer.

Peninggalan Kerajaan Kutai

Peninggalan kerajaan Kutai yang paling terkenal boleh jadi adalah prasasti Yupa. Namun sebagai kerajaan Hindu yang berdiri lama pastinya ada peninggalan lainnya selain prasasti ini. Adapun beberapa peninggalan dari Kutai, baik Kutai Kartanegara maupun Kutai Martadipura antara lain tembok kerajaan Majapahit, gamelan Gajah Prawoto, keramik kuno Tiongok, meriam kerajaan Kutai, tempat duduk raja, tali Juwita, keris Bukit Kang, kelambu Kuning, kura-kura emas, pedang sultan Kutai, kalung Ciwa, kalung Uncal, dan ketopog Sultan Kai.

Peninggalannya beragam berdasarkan jenis benda. Tak seperti kerajaan Nusantara lain yang bisa memberikan peninggalan berupa candi atau gapura. Hal ini wajar, sebab Kutai adalah kerajaan yang berakhir pada abad ke-19, yang mana sudah memasuki zaman modern. Karenanya, maklum jika banyak peninggalannya yang berupa benda.

Baca juga : Kerajaan Majapahit – Peninggalan, Sejarah, Peta, Letak, Silsilah, Raja

Sejarah Kerajaan Kutai

Membicarakan sejarah kerajaan Kutai akan menjadi pembicaraan yang panjang dan cukup menarik. Sebab, kerajaan Nusantara yang satu ini diketahui telah ada sekitar abad ke-4 dan ke-5 dan baru benar-benar runtuh atau berakhir pada tahun 1960. Menjadi masa yang tidak singkat bagi kerajaan ini berdiri, karena jika dihitung kerajaan ini ada selama 1200 an tahun lamanya.

Raja-raja yang memimpin silih berganti, mulai dari Kutai yang masih Kutai Martapura hingga menjadi kesultanan yang disebut sebagai Kutar Kartanegara. Telah terjadi perubahan jenis atau corak kerajaan pada abad ke-13, tepatnya saat raja yang sedang memimpin meninggal karena peperangan.

Raja yang menggantinya mengubah Kutai Martapura menjadi Kutai Kartanegara. Dari yang tadinya merupakan kerajaan bercorak Hindu menjadi kerajaan bercorak Islam. Ada beberapa perubahan yang terjadi pada saat itu. Karenanya, bisa dipetik kesimpulan bahwa Kutai Martapura runtuh karena raja yang memimpin meninggal dunia.

Kemudian dimulailah kesultanan karena kerajaan tersebut sudah memiliki corak Islam. Kesultanan Kutai Kartanegara ini berakhir pada tahun 1960. Penyebab berakhirnya adalah karena adanya kebijakan negara untuk menghentikan kesultanan. Daerah yang tadinya memiliki nama Daerah Istimewa Kutai, menjadi Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai, Provinsi Jawa Timur.

Karena cukup lama berdiri sebagai kerajaan, ada cukup banyak peninggalannya. Yang mana peninggalan paling terkenal adalah prasasti Yupa. Sebuah prasasi yang sangat membantu ilmuwan mengetahui bahwa kerajaan Kutai pernah ada, siapa yang mendirikan, siapa raja-rajanya, dan sedikit kisah tentang kerajaan ini. Selengkapnya tentang kerajaan Nusantara ini akan dibahas.

Kerajaan Kutai Kartanegara

Kerajaan Kutai Kartanegara bisa dikatakan sebagai Kutai yang baru. Sebab, tadinya yang berdiri adalah Kutai Martadipura. Baru kemudian berubah menjadi Kutai Kartanegara yang bercorak Islam setelah ada raja yang meninggal dunia.

Saat itu sekitar abad ke-13, Kutai Martadipura adalah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja bernama Maharaja Dharma Setia. Maharaja Dharma Setia kemudian meninggal dunia dan kursi kepemimpinann kerajaan kemudian digantikan oleh Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Aji Pangeran saat itu menjadi raja ke-13 yang meimpimpin kerajaan Kutai, namun di masa kepeimpinanannya lah Kutai Martadipura berubah menjadi Kutai Kartanegara.

Kutai Kartanegara resmi menjadi kerajaan di abad ke-13, namun pergantian gelar untuk raja baru ada pada abad ke-17. Sejak abad ke -17, siapapun raja yang memimpn Kutai Kartanegara memiliki gelar Sultan. Karena Kutai Kartanegara sendiri adalah kesultanan. Salah satu contoh raja kerajaan ini yang sudah memiliki gelar sultan adalah Sultan Aji Muhammad Idris.

Dengan penjelasan ini bisa disimpulkan bahwa Kutai Martadipura dan Kutai Kartanegara adalah dua kerajaan yang berbeda namun saling berhubungan. Kutai Kartanegara ada karena Kutai Martadipura. Jika Maharaja Dharma Setia tidak meninggal karena peperangan mungkin saja Kutai tetap menjadi Kutai Martadipura.

Namun tidak bisa sepenuhnya menjadi alasan meninggalnya raja Kutai Martadipura membuat Kutai berubah. Sebab antara abad ke-13 sampai abad ke-15 dikenal sebagai waktu-waktu masuknya agama Islam ke berbagai wilayah di Indonesia.

Letak Kerajaan Kutai

Letak kerajaan Kutai adalah letak pusat dari kerajaan berada, adapun pusat dari kerajaan ini berada di Muara Kaman. Muara Kaman sendiri untuk saat ini adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Di sekitar daerah ini banyak ditemukan peninggalan-peninggalan Kerajaan yang mana telah disebutkan di atas.

Para ilmuwan sepakat untuk menamakan kerajaan ini sebagai kerajaan Kutai karena prasasti yang ditinggalkan kerajaan ini ditemukan di daerah Kutai.

Pendiri Kerajaan Kutai

Pendiri kerajaan Kutai adalah Kudungga, atau raja pertama di Kutai yang memiliki gelar anumerta Dewawarman. Maharaja Kudungga bisa diketahui mendirikan kerajaan ini karena adanya prasasti Yupa yang ditemukan di Sungai Mahakam. Dalam prasasti tersebut diceritakan Kudungga tadinya adalah seorang ketua suku.

Setelah ajaran Hindu masuk ke Nusantara, baru kemudian Maharaja Kudungga mendirikan kerajaan yang diberi nama sesuai dengan daerah atau lokasinya, Kutai. Saat itu pada abad ke-5, setelah kerajaan berdiri mulai ada sistem pemerintahan di Indonesia. Karena dengan berdirinya sebuah kerajaan, sudah tidak dikenal lagi kepala suku, melainkan raja.

Maharaja Kudungga menjadi pendiri sekaligus raja yang pertama di Kutai. Setelah Kudungga, posisi raja kerajaan ini diisi oleh putranya yang bernama Asmawarman.

Masa Kejayaan Kerajaan Kutai

Masa kejayaan kerajaan Kutai adalah pada saat kerajaan ini ada sebagai Kutai Martadipura, bukan Kutai Kartanegara. Itu artinya, Kutai menemui masa kejayaan saat kerajaan ini masih bercorak Hindu. Adapun raja yang telah mengantarkan Kutai ke masa kejayaannya adalah Raja Mulawarman. Lagi-lagi prasasti Yupa lah yang telah memberitahu kita semua bahwa Raja Mulawarman adalah raja yang mengantar Kutai ke masa kejayaan ini.

Banyak hal telah diceritakan dalam prasasti Yupa meskipun ada beberapa bagian dari prasasti ini yang masih belum diketahui apa artinya. Dalam prasasti diceritakan bahwa bersama Raja Mulawarman kehiduoan masyarakat sekitar kerajaan menadi makmur.

Ini didukung dengan lokasi strategis berdirinya kerajaan, yaitu sebuah wilayah yang menjadi perantara perdagangan Cina dan India. Karena banyaknya pedagang yang singgah di sekitar kerajaan, banyak pedagang yang merupakan masyarakat lokal yang makmur.

Bahkan diceritakan para pedagang ini memberikan hadiah dari yang sederhana hingga yang mewah kepada Raja Mulawarman sebagai bentuk rasa terimakasih telah diperbolehkan dan didukung untuk berdagang. Raja pun juga bersikap ramah dan apresiatif terhadap rakyatnya, terbukti Raja Mulawarman kemudian memberikan sebanyak 20.000 ekor sapi kepada para kaum Brahmana.

Tak heran bila prasasti Yupa adalah prasasti yang dibuat oleh para kaum Brahmana sebagai bentuk pengenangan kebaikan dan kemuliaan Raja Mulawarman.

Raja Kerajaan Kutai

Seperti yang telah diketahui, Kutai Kartanegara adalah versi baru dari Kutai Martadipura. Karena keduanya memiliki corak yang berbeda, maka wajar jika raja-raja yang memimpin memiliki gelar yang berbeda. Berikut akan disebutkan raja siapa saja yang telah memimpin Kutai Martadipura dan sultan siapa saja yang pernah memimpin Kutai Kartanegara.

Raja pertama yang memimpin Kutai Martadipura adalah Maharaja Kudungga, kemudian dilanjutkan dengan Maharaja Asmawarman, Maharaja Mulawarman, Maharaja Marawijaya Warman, Maharaja Gajayana Warman, Tungga Warman, Jayanaga Warman, Nalasinga Warman, Nara Parana Tungga, Gadingga Warman Dewa, Indra Warman Dewa, Sangga Warman Dewa, Candrawarman, Sri Langka Dewa, Guna Parana Dewa, Wijaya Warman, Sri Aji Dewa, Mulia Putera, Nala Pandita, Indra Paruta Dewa, dan diakhiri dengan Maharaja Dharma Setia.

Setelah Maharaja Dharma Setia tiada, Kutai dipimpin oleh raja Kutai Kartanegara yang pertama yang menjabat dari tahun 1300 sampai 1325 Masehi. Sultan pertama Kutai Kartanegara adalah Aji Batara Agung Dewa Sakti.

Dilanjutkan dengan Aji Batara Agung, Aji Maharaja Sultan, Aji Raja Mandarsyah, Aji Pangeran Tumenggung Bayabaya, Aji Raja Mahkota Mulia Alam, Aji Dilanggar, Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa ing Martapura, Aji Pangeran Dipati Agung ing Martapura, Aji Pangeran Dipating Maja Kusuma ing Martapura, Aji Ragi gelar Ratu Agung, Aji Pangeran Dipati Tua, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa ing Martapura, Aji Muhammad Idris, Aji Muhammad Aliyeddin, Aji Muhammad Salehuddin, Aji Muhammad Sulaeman, Aji Muhammad Alimuddin, Aji Muhammad Parikesit, setelahnya diakhiri oleh Haji Aji Muhammad Salehuddin II.

Jika ditotal, ada 21 raja yang telah memimpin Kutai Kartanegara dan ada 21 raja juga yang memimpin Kutai Martadipura.

Prasasti Kerajaan Kutai

Prasasti kerajaan Kutai yang paling terkenal adalah prasasti Yupa. Namun sebenarnya bukan itu saja prasasti yang ditinggalkan oleh kerajaan ini. Menurut sumber, ada tujuh prasasti lainnya yang belum diketahui namanya. Empat prasasti ditemukan pada tahun 1879, 60 tahun setelahnya tiga prasasti lainnya ditemukan.

Tujuh prasasti ini kemudian disimpan di Museum Nasional. Tidak terlalu menjadi masalah jika ketujuh prasasti ini masih belum diketahui namanya. Namun, perlu diketahui bahwa prsasti Yupa telah berhasil menguakkan segala sesuatu tentang kerajaan Kutai. Dengan prasasti ini, bisa diketahui bahwa dahulunya ada sebuah kerajaan bercorak Hindu yang berdiri pada abad ke-5 Masehi. Kerajaan ini menjadi kerajaan bercorak Hindu tertua di Indonesia.

Prasasti Yupa ditemukan di sekitar Sungai Mahakam yang berada di daerah Muara Kaman, provinsi Kalimantan Timur. Diketahui prasasti ini dibuat oleh para kaum Brahmana untuk mengingat atau mengenang kemuliaan salah satu rajanya yang bernama Raja Mulawarman. Huruf yang digunakan dalam prasasti ini menggunakan huruf Pallawa dan dengan bahasa Sansekerta.

Kutai memang merupakan kerajaan tertua bercorak Hindu di Indonesia, prasasti Yupa juga dinilai sebagai peninggalan kerajaan Hindu yang tertua. Ada sebanyak tujuh prasasti Yupa yang ditemukan, namun sayangnya sampai sekarang ini baru empat prasasti saja yang bisa diketahui artinya.

Prasasti ini tidak hanya untuk mengenang kemuliaan Raja Mulawarman yang telah memberikan banyak sapi pada kaum Brahmana saja. dalam prasasti juga dijelaskan bahwa Mulawarman adalah anak dari Asmawarman dan merupakan cucu dari Kudungga. Dengan keterangan ini pula bisa diketahui bahwa Kudungga adalah pendiri kerajaan Kutai.

Keruntuhan Kerajaan Kutai

Jika bicara soal keruntuhan kerajaan Kutai maka akan ada dua cerita. Cerita tentang runtuhnya Kutai Maradipura dan runtuhnya Kutai Kartanegara. Kutai Martadipura resmi runtuh pada tahun 1300 Masehi. Runtuhnya Kutai Martadipura disebabkan karena meninggalnya raja yang sedang memimpin yang mana bernama Maharaja Dharma Setia.

Tidak runtuh sepenuhnya, karena setelah Kutai Martadipura resmi berakhir kerajaan ini hanya berubah nama menjadi Kutai Kartanegara. Selain ada perubahan nama, kerajaan ini juga menjadi kerajaan bercorak Islam. Yang mana sebelumnya adalah kerajaan bercorak Hindu.

Kutai Kartanegara berakhir atau runtuh pada tahun 1960, tepatnya pada masa Indonesia sudah merdeka. Adapun alasan kerajaan ini berakhir adalah karena adanya kebijakan penghapusan kesultanan. Daerah Istimewa Kutai pada saat itu mulai dihapuskan dan menjadi bagian dari Provinsi Kalimantan Timur. Raja yang sedang menjabat, Sultan Aji Muhammad Parikesit kemudian hidup menjadi rakyat biasa.

Silsilah Kerajaan Kutai

Kurang bisa diketahui secara pasti nama ibu, jumlah saudara, nama saudara jika memang ada, pada silsilah kerajaan Kutai. Hal yang diketahui secara pasti adalah nama-nama raja beserta keterangan hubungan di bagian awal kerajaan ini  berdiri saja. Sebab memang untuk raja-raja yang setelahnya sulit ditemukan bagaimana hubungannya, karena memang peninggalan berupa prasasti tidak banyak.

Raja yang pertama adalah Kudungga. Sebelum mendirikan kerajaan, Kudungga adalah kepala suku di daerah Kutai. Kemudian masuknya agama Hindu di sana membuatnya memiliki keinginan untuk mendirikan kerajaan. Sampai pada akhirnya berdirilah Kutai Martadipura. Kudungga kemudian memiliki anak yang diberi nama Asmawarman. Setelah Asmawarman dewasa, ia memiliki putra yang diberi nama Mulawarman yang mana kemudian menjadi raja ketiga di kerajaan ini.

Barulah setelah Mulawarman kuran bisa diketahui apa hubungannya satu sama lain pada raja-raja yang memimpin. Setelah Mulawarman, Kutai Martadipura dipimpin oleh Marawijaya Warman. Begitu seterusnya, siapa saja yang menjadi penerusnya telah disebutkan pada poin sebelumnya (bagian Raja-Raja Kerajaan).

Makalah Kerajaan Kutai

Sebagai kerajaan Hindu tertua di Indonesia dan berdiri cukup lama, pastilah akan menjadi pembelajaran menarik untuk dibuatkan makalah kerajaan Kutai. Ya, kerajaan yang berada di Kalimantan Timur ini berdiri pada abad ke-5 dan diketahui runtuh atau berakhir pada abad ke-19. Bisa disimpulkan bahwa kerajaan ini berdiri selama 12 abad lamanya atau 1200 tahun. Sangat lama, dan sangat jarang ditemui kerajaan Nusantara yang bisa berdiri selama ini.

Dengan pembuatan makalah tentang kerajaan ini, siswa bisa mempelajari betapa mulianya raja pada saat itu sehingga dicintai banyak rakyatnya. Kutai juga merupakan kerajaan yang sudah menganut sistem pemerintahan meskipun lahir di abad ke-5. Sebab dari peninggalannya diketahui kehidupan sosialnya sudah tak lagi mengenal ketua suku, melainkan raja.

Mempelajari peninggalan-peninggalan kerajaan ini juga akan menjadi pembelajaran yang menarik. Selain apa yang telah disbeutkan di atas, prasasti Yupa sendiri adalah prasasti yang masih belum dipecahkan seluruhnya apa maknanya. Itulah sekilas rangkuman tentang kerajaan Hindu yang paling tua di Indonesia ini. Setelah tahun-tahun berikutnya, baru akan ada kerajaan Singorasi, Majapahit, Mataram Kuno, dan lain sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *